Senin, 13 Februari 2012

Agama atau Yesus?

Ini adalah pengalaman saya pribadi: bertahun-tahun saya pergi ke gereja dan beragama Kristen, di dalam hidup saya hampir tidak ada perubahaan sama sekali. Namun dalam kurun waktu 1 tahun 6 bulan, saya mengikut Yesus, hidup saya telah banyak berubah.

Selama bertahun-tahun, saya pergi ke gereja, hampir tidak pernah dibicarakan mengenai dosa secara aktual, bahkan sepertinya itu adalah hal yang tabu.

Pembicaraan dosa hanya sejauh mana yang disebut dosa, mana yang bukan. Semua orang seakan-akan memiliki hidup yang baik, tidak ada satu pun orang yang menceritakan pergumulannya. Tentu tidak semua gereja seperti ini, tetapi tidak bisa dipungkiri hampir semuanya seperti ini. Begitu pula dengan mereka yang Muslim, teman-teman saya biar pun mereka sholat dan puasa tetapi hidupnya begitu-begitu saja. Malahan ada yang berjilbab tetap saja melakukan perzinahan. Jelas sekali, jilbab atau tidak, sama sekali tidak ada pengaruh kepada hati manusia. Begitu pula dengan baptisan, baik yang dibaptis percik atau dibaptis selam, kelakuannya tidak berbeda. Semua ritual ini dilakukan karena itulah hukum agama yang berlaku.

Di sinilah kelemahan hukum agama, kita mematuhi hanya karena takut dihukum sehingga akhirnya, orang pun menjadi takut untuk mengakui keberdosaan mereka dan mereka lebih suka menyembunyikan kekurangan mereka karena takut dihukum dan takut akan cercaan orang-orang beragama lainnya, padahal mungkin sekali orang yang mencerca sama-sama berbuat juga. Inilah kemunafikan agama.

Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. (2 Korintus 12:9)

Saya sendiri pun mengalami begitu. Rajin ke gereja tetapi juga suka nonton film porno. Dalam kehidupan beragama, manusia hanya diharapkan untuk mengikuti peraturan yang ada saja. Dan kalau pun ada yang terbuka, jarang sekali mereka mendapatkan tanggapan yang penuh kasih. Di sinilah perbedaannya dengan mengikut Yesus. Yesus menyatakan bahwa justru di dalam kelemahan kita, kuasa Dia menjadi sempurna. Apakah ini maksudnya? Apa maksudnya bermegah dalam kelemahan?

Kalau agama hanya menutupi dan tidak menanggulangi kelemahan mansuia, kalau Yesus mengharap kita bermegah dalam kelemahan kita karena dengan begitu kuasa Dia dinyatakan dan Dia pun dipermuliakan. Contoh sederhana, tidak berapa lama di tempat persekutuan saya, kami sedang membahas mengenai dosa dan 10 perintah Tuhan. Hukum diberikan supaya kita mengenal dosa dan dengan kita mengenal dosa, kita menjadi sadar betapa lemah dan jahatnya kita ini sehingga dengan demikian kita pun semakin sadar betapa Tuhan mengasihi kita sampai-sampai Dia rela menebus kita, orang-orang lemah dan jahat ini. Kami pun mulai mengecek dosa-dosa berdasarkan 10 perintah Tuhan itu. Tanpa malu, saya nyatakan saya memang pernah berzinah, tidak hanya secara hati. Tapi di dalam kelemahan itu, saya mau menyatakan kemuliaan Tuhan. Bukannya saya bangga melakukan dosa itu, tetapi saya bangga karena Tuhan itu penuh kasih, sehingga manusia yang penuh dosa seperti saya ini, masih Dia selamatkan. Di dalam kelemahan saya, memang kuasa Kristus semakin nyata. Jelas tanpa kuasa Kristus, mana bisa saya bisa keluar dari lumpur dosa itu. Pribadi Tuhan sajalah yang bisa mengangkat saya dan menjaga saya dari lumpur dosa itu. Tentunya, sebagai ucapan terima kasih kepada Tuhan Yesus yang terkasih itu, saya pun menjauhi lumpur itu sejauh-jauhnya. Sampai saat ini saya masih sering digoda oleh si jahat untuk kembali ke dosa itu. Memang itulah kelemahan saya, sendirian saya tidak bisa menanggung ini tetapi dengan kuasa Kristus, maka saya menjadi kuat dan kemuliaan Kristus dinyatakan lewat kelemahaan saya. Terpujilah Tuhan Yesus!

sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. (Yohanes 1:17)

Saudara, dengan susah payah saya mencoba untuk tidak berzinah. Ingat dalam ajaran Kristus ada 2 jenis perzinahan: perzinahan fisik dan perzinahan hati (melihat film porno termasuk). Segala upaya saya lakukan tetapi saya selalu lemah dan akhirnya kembali melakukan perzinahan. Saya tidak pernah menyatakan ini kepada siapa-siapa, karena takut. Namun, sejak mengenal kasih Kristus, saya pun semakin berani untuk menyatakan kebenaran, sebarapa jeleknya itu, termasuk kelemahan saya sendiri. Karena di dalam kasih ada pengampunan dan itulah yang semua orang butuhkan tetapi kebanyakan orang tidak pernah berani untuk menghadapi kebenaran, mereka lebih memilih untuk menutupi perbuatan buruk mereka daripada menyatakannya (Yohanes 3:19) untuk menerima pengampunan dan pemulihan. Masalahnya Tuhan tidak akan membantu kita kalau kita tidak mulai dengan kebenaran. Dari pihak kita, harus ada kejujuran mengakui akan kelemahan kita dan saat itulah kasih Tuhan dicurahkan dan kita pun dipulihkan. Bagaimana seorang dokter bisa menolong seorang yang sakit kalau si pesakit itu merasa tidak ada yang salah dengan dirinya atau berpura-pura baik-baik saja? Supaya sembuh, si pesakit harus mengakui dulu sakitnya, barulah dia pergi ke dokter dan si dokter akan menolongnya.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. (Matius 23:27)

Pemulihan dari Tuhan Yesus tidaklah bersifat jasmaniah (eksternal) tetapi rohaniah (internal), pemulihan yang sejati. Saudara terkasih, sewaktu saya masih seorang homoseks, saya pikir masalah saya ada di prilaku saya. Oleh karena itu, saya mencoba untuk mengubah kelakuan saya, saya mencoba untuk mengubah cara berjalan, cara berbicara, dan memaksakan diri untuk menyukai perempuan. Tetapi semuanya sia-sia, setelah selang berapa lama, saya selalu kembali ke prilaku lama saya. Sampai akhirnya saya memutuskan untuk menyerah dan hidup saja sebagai seorang homoseks. Justru setelah ini, Tuhan membukakan suatu hal yang tadinya saya tidak mengerti. Ternyata yang selama ini bermasalah bukanlah prilaku saya, melainkan hati dan pikiran saya. Prilaku saya hanyalah gejala bahwa memang ada masalah dalam diri saya, sama seperti orang yang demam, bukan demam hanyalah gejala, demam reda bukan berarti masalah hilang karena bisa saja sumber demam tersebut masih ada di tubuh kita. Oleh karena itu, biarpun manusia bisa mengganti prilaku mereka tetapi kalau hati mereka tidak berubah, mereka tidak bedanya dengan mayat yang didandani, biarpun mayat itu terlihat indah tetapi mayat itu tetaplah mati. Bukan ini yang Tuhan inginkan, lihat bagaimana keras Tuhan Yesus mengecam ahli agama dengan ayat di atas. Yang Tuhan mau adalah pembaharuan akhlak dan budi.

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Tuhan: apa yang baik, yang berkenan kepada Tuhan dan yang sempurna. (Roma 12:2)

Satu hal yang Tuhan bukakan kepada saya, mengapa saya memiliki prilaku homoseks adalah karena ada dosa di dalam diri saya dan dosa itu disebabkan karena saya mempercayai kebohongan iblisi. Di masa lalu, saya percaya bahwa saya tidak memiliki arti sama sekali sehingga akhirnya saya membenci diri sendiri. Ingat, menurut ajaran Kristus, membenci sama dengan membunuh dan memang saya beberapa kali mencoba bunuh diri. Dosa inilah yang mengakibatkan saya memiliki prilaku menyimpang. Namun, setelah saya mengalami pembaharuan akhlak dan budi, maka suatu perubahaan pun terjadi. Satu hal yang pasti, saya sudah tidak membenci diri saya sendiri, tidak mungkin saya membenci diri saya sendiri ketika Tuhan mengasihi saya dengan sangat. Jika pencipta saya sangat mengasihi saya, maka saya sama sekali tidak ada alasan untuk membenci diri sendiri. Saudara, ini mungkin kelihatan hal yang sepele, tetapi begitu saya dengan kesungguhan menerima kebenaran ini di dalam diri saya, maka kasih Tuhan pun melingkupi saya dan memperbaharui saya. Dengan hilangnya kebencian saya, maka prilaku-prilaku saya yang menyimpang pun hilang juga karena akar permasalahannya sudah ditanggulangi. Bayangkan saudara, bertahun-tahun saya hidup tanpa menyadari akar permasalahan dan baru sadar ketika Tuhan bukakan secara langsung kepada saya. Inilah mengapa kita harus selalu bertanya kepada Tuhan, karena kita adalah makhluk terbatas sementara Tuhan Yesus mengetahui segala sesuatu.

Mungkin ada yang bertanya bagaimana caranya memperbaharui akhlak dan budi kita, jawabannya lewat iman. Iman adalah kunci akan segala sesuatu. Saudara terkasih, ketika Anda mendengarkan firman Tuhan dan Anda sungguh-sungguh mempercayai-Nya, maka akhlak dan budi kalian sudah diperbaharui. Hanya saja pertanyaannya berapa lama? Apakah ketika ada 'musibah' menimpa lantas iman kita akan gugur? Ada satu lagi faktor yang sangat mempengaruhi iman kita, yaitu hal-hal yang kita tonton dan dengarkan. Berhati-hatilah dalam menonton atau mendengarkan segala sesuatu. Banyak orang mengira film hanyalah film dan musik hanyalah musik. Itu salah besar! Setiap film dan musik membawa roh tersendiri, kalau roh itu bersifat baik, tidak mengapa tetapi bagaimana jika roh itu adalah roh jahat? Misal roh kekerasan pada film-film yang menayangkan adegan kekerasan. Mau tidak mau, apa yang kita tonton dan dengarkan itu akan membentuk perspektif Anda dan sikap Anda akan berubah seturut dengan perspektif Anda. Karena itu, milikilah perspektif Tuhan, banjiri hati dan pikiran kita dengan pikiran dan perasaan Kristus, bukan dengan film dan musik yang tidak memuliakan Tuhan itu. Jagalah kekudusan hati dan pikiran kita, supaya pembaharuan akhlak dan budi kita tidak hilang akibat terhimpit oleh roh-roh jahat yang masuk lewat film dan musik yang tidak baik.

Kesaksian saya: dulu saya gemar main video game, apalagi game yang berjudul "Mortal Kombat". Karena saya menjadi terbiasa melihat kekerasan lewat video game sehingga sensitivitas saya jauh-jauh berkurang, rasa belas kasihan saya menjadi tumpul. Sehingga kita saya melihat adanya kekerasaan, saya bisa tertawa saja atau tidak peduli. Setelah pembaharuan akhlak dan budi oleh Tuhan, serta merta saya tidak menyukai lagi hal-hal yang menawarkan kekerasan. Saya "ngilu" melihat kekerasan. Namun, hampir dipastikan jika saya kembali membiasakan diri lagi, pasti rasa "ngilu" itu hilang dan belas kasihan saya pun pasti tumpul lagi. Padahal belas kasihan itulah yang Tuhan kehendaki (Matius 9:13). Saya pun sekarang tidak menonton film-film sekuler apalagi jika ada tokoh homoseks. Tipuan-tipuan si jahat memang hadir dalam bentuk-bentuk yang sangat halus dan menggiurkan. Oleh Roh Tuhan saja, kita bisa mengenali mana tipuan si jahat.

Maka kata-Nya kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:31-32)

Banyak orang berpikir, jika kita membaca Alkitab atau mendengarkan kotbah, maka kita akan 'mengetahui' kebenaran. Begitu banyak orang telah menyunat ayat ini! Perhatikan baik-baik, langkah awal untuk mengetahui kebenaran adalah TETAP DALAM FIRMAN YESUS. Kebenaran itu nampak pada kita jika kita tetap di dalam firman-Nya dan setelah itulah baru kita menerima kemerdekaan oleh kebenaran itu. Selama kita tidak tetap di dalam firman-Nya, maka kebenaran itu belum sungguh-sungguh tampak bagi kita, belum kita miliki di dalam hati kita.

Mengikut Tuhan Yesus memang ada harganya. Semakin murni seseorang mengikut Yesus, semakin banyak pula yang harus dia korbankan. Saya sendiri belum seberapalah pengorbanannya untuk mengikut Raja Yesus, tidak sebanding jika dibandingkan dengan pengorbanan yang telah dilakukan Raja saya itu. Kalau Raja saya saja rela untuk turun dari tahta-Nya dan melayani kita dengan memberikan nyawa-Nya, mengapa kita enggan sekali untuk mengorbankan hal-hal sepele seperti film dan musik? Apakah film dan musik telah menjadi lebih penting bagi kita? Ingat saudara, di sini saya tidak sedang berbicara soal dosa. Saya tidak bilang kalau nonton film ini atau dengar musik itu dosa atau tidak boleh, tetapi saya sedang berbicara soal kemurnian kita untuk tinggal di dalam firman-Nya, sehingga kita merdeka dari segala tipu daya si Iblis lewat roh-roh jahat. Ini adalah perkara bertumbuh dewasa dalam iman kepada Kristus.

Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. (Matius 23:28)

Semua agama "katanya" mengajarkan berbuat kebaikan tetapi untuk apa? Untuk menutupi kejahatan mereka. Tidak percaya? Contoh saja, dalam Islam, ada istilah KAFARAT yang adalah sesuatu yang dibayarkan (tebusan) untuk menutupi pelanggaran sumpah (berbohong), misal dengan memberi makan orang miskin. Saudara, buat apa kita memberi makan orang kalau kita terus-terusan berdosa? Memang dari luar terlihat baik tetapi dari dalam hati busuk sekali karena kita penuh dengan kebohongan. Ini adalah perbuatan munafik, percis seperti ayat di atas. Bukan ini yang Tuhan mau. Yang Tuhan mau, dari dalam hati kita terpancar hal-hal yang baik sampai keluar, bukan hanya di luar baik tetapi di dalam busuk. Agama menggunakan perbuatan baik untuk menutupi perbuatan jahat, memang orang tidak bisa melihat perbuatan jahat tetapi Tuhan bisa. Agama telah menipu banyak manusia dengan berpikir "Ah, saya khan sudah kasih makan orang banyak" atau "Ah saya khan setiap minggu pergi ke gereja" atau "Ah saya khan sudah sholat 5x sehari". Semua itu tiada artinya di mata Tuhan dan perbuatan jahat yang ditutupi bukan berarti hilang. Inilah mengapa agama adalah produk gagal, karena agama hanya bisa menghukum orang dan menutupi masalah saja (dengan perbuatan baik yang semu) tanpa membenahinya. Agama tidak menawarkan pembebasan dari dosa. Bayangkan jika seorang muslim mengaku dia telah berzinah, apa yang akan terjadi pada dia? Dia akan dirajam menurut hukum Sharia. Bagaimana jika seorang yang beragama kristen mengaku berzinah? Dia akan dikeluarkan dari gerejanya. Oleh karena itu lah, kebanyakan orang beragama mereka hanya sibuk menutup-nutupi dosa mereka dengan "perbuatan baik", seperti "sholat" atau "aktif di gereja". Mereka terlalu takut untuk dihukum untuk terbuka mengenai dosa-dosa mereka. Agama sama sekali tidak menawarkan pengampunan dan pembebasan.

"Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." (Lukas 4:18-19)

Saudara, itu semua hanyalah ilusi, bukan itu yang Tuhan mau. Mulailah dengan pengakuan dosamu, bukan kepada pastur, bukan kepada siapa-siapa, tetapi kepada Tuhan, nyatakan dosamu. Jangan malu, jangan pungkiri, jangan coba tutupi dengan berbuat baik. Nyatakan kepada Tuhan dan sadari benar posisimu sebagai manusia berdosa dan rasakan kasih Tuhan dalam bentuk pengampunan dosa yang Dia curahkan di kayu salib. Kita sering kali terhambat dalam hal kebenaran. Kita tidak mau mengakui atau tidak benar-benar menyadari betapa berdosanya kita ini dan kita kurang memepercayai karya pengampunan Tuhan di kayu salib dan memilih untuk percaya pada perbuatan baik sendiri. Perbuatan baikmu mungkin menutupi kejahatanmu tetapi bukan berarti kejahatanmu lantas hilang! Semua manusia telah terjangkit dosa dan hanya Tuhan Yesus yang bisa menyembuhkannya dengan darah-Nya yang tercurah di Golgota bagi kita.

Di sinilah pentingnya penebusan dosa oleh sang Juruselamat, Yesus Kristus, dan perubahan sikap hati kita. Tanpa penebusan dosa, maka perbuatan baik kita hanyalah seperti dekorasi pada sebuah kuburan. Tetapi dengan penebusan dosa, maka status kita pun berubah dari orang-orang yang mati rohani akibat dosa menjadi orang-orang yang hidup oleh Roh Tuhan. Perbuatan baik pun akan meluap sebagai hasil dari orang-orang yang hidup oleh Roh Tuhan. Perbuatan baik bukan lagi sarana untuk keselamatan melainkan indikasi akan hadirnya Roh Tuhan di dalam kehidupan orang tersebut.

Oleh karena inilah, saya menolak beragama dan memilih hanya mengikut Yesus saja. Tidak harus menjadi anggota gereja tertentu, tidak harus mengikuti suatu denominasi tertentu, yang penting sabda Raja Yesus yang menjadi pegangan hidup saya. Karena firman-Nya akan kekal selamanya. Berpeganglah pada yang kekal, tinggalkanlah yang fana. Tuhan Yesus memberkati!

Doa:

Bapa di Surga,
Saya mengucap syukur untuk penebusan yang Engkau telah sediakan bagiku, begitu besar pengorbanan-Mu bagiku, ya Bapa. Saya menyadari benar keberdosaan saya di hadapan-Mu, Bapa yang Kudus dan memohon pengampunan Bapa di surga jika di masa lalu, saya baru beragama saja tetapi belum sungguh-sungguh hidup oleh Roh-Mu yang Kudus. Bapa, tiliklah hati dan pikiranku, nyatakan kepadaku ya Bapa, kalau-kalau ada hal-hal yang perlu diselesaikan di hadapan-Mu dalam hidupku, mungkin ada dosa-dosa yang belum aku selesaikan atau ada kebohongan-kebohongan iblisi yang masih tertanam di hati dan pikiranku. Ya Bapa, perbaharuilah hati dan pikiranku dan biarlah aku menjadi sehati dan sepikiran dengan-Mu. Ajarku menyukai hal-hal yang Engkau sukai dan menolak hal-hal yang Engkau tolak. Singkirkanlah ya Bapa, segala hal-hal di dalam hati dan pikiranku yang tidak berkenan kepada-Mu dan ajar aku untuk menjaga kekudusan hati dan pikiranku dari segala pengaruh si jahat. Aku mau sungguh-sungguh Bapa di Surga, hidup oleh Roh-Mu saja. Segala roh-roh jahat dan roh-roh najis yang masih merecoki kehidupanku, enyahlah kalian demi nama Yesus Kristus. Aku mau Bapa di Surga, hidup lebih murni lagi untuk-Mu, dan mohon singkirkanlah ya Bapa kebiasaan-kebiasaan burukku. Biarlah hidupku semakin memuliakan-Mu setiap harinya. Di dalam nama Yesus, aku telah berdoa, Amin.

1 komentar: